My Name Is Juliana Sirait. Welcome To My Blog and Don't Forget To Comment.
RSS

Pages

Tutorial Membuat Pancake (Kelompok 2)


Artikel Kelompok 2 (Bertha,Ika Putri,Juliana,dan Sonia Laura)





Media Sosial Ajang Berpolitik
Media sosial adalah sebuah media online, di mana para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan ide - ide melalui blog, jejaring sosial, forum, dan dunia virtual. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengungkapkan pengguna internet di Indonesia saat ini mencapai 63 juta orang. Dari angka tersebut, 95 persennya menggunakan internet untuk mengakses jejaring sosial.
Menurut data dari Webershandwick, perusahaan public relations dan pemberi layanan jasa komunikasi, untuk wilayah Indonesia ada sekitar 65 juta pengguna facebook aktif. Sebanyak 33 juta pengguna aktif per harinya, 55 juta pengguna aktif yang memakai perangkat mobile dalam pengaksesannya per bulan dan sekitar 28 juta pengguna aktif yang memakai perangkat mobile per harinya.
Pengguna twitter, berdasarkan data PT Bakrie Telecom, memiliki 19,5 juta pengguna di Indonesia dari total 500 juta pengguna global. Twitter menjadi salah satu jejaring sosial paling besar di dunia sehingga mampu meraup keuntungan mencapai USD 145 juta.         Para pemilih muda Indonesia ini sudah terbiasa dengan teknologi terutama internet, dengan lebih dari 80 persen pengguna internet di Indonesia berusia di bawah 35 tahun. Bahkan yang lebih penting lagi dalam pemilu kali ini, 90 persen lalu lintas internet di Indonesia akan terjadi di situs sosial media, sementara 6 persen hanya digunakan untuk mengakses berita politik dan informasi lainnya.
Bagi para politisi, sosial media menjadi alat yang semakin penting, seperti misalnya calon presiden Prabowo Subianto dari Partai Gerindra bisa berkomunikasi dengan 3 juta pendukungnya lewat sosial media setiap hari. Kampanye di media sosial dilakukan dengan cara yang berbeda untuk merebut suara pemilih muda yang menjadi pengguna aktif facebook dan twitter, seperti yang disampaikan oleh Noudhy Valdryno.
"Status soal visi misi itu sangat minim, dan akhirnya kita membuat keputusan untuk menggunakan video atau foto dan itu yang membuat booming. Akhirnya, kampanye di sosial media itu jadi antitesis kampanye konvensional," jelas Noudhy.
Prabowo bahkan sudah memiliki akun facebook sejak 2009 lalu, dengan jumlah like mencapai lebih dari 7 juta. Sementara, like di halaman facebook Joko Widodo mencapai lebih dari 3 juta. Di twitter, akun Jokowi memiliki followers lebih banyak, yaitu lebih dari 1,2 juta akun, sementara Prabowo masih dikisaran 972.000 followers.
Sosial media merupakan wajah modern dalam politik Indonesia. Namun kebiasaan lama masih bisa menyusup ke dalam pemilihan, yang bisa berpengaruh terhadap partisipasi para pemilih muda. Laporan sudah muncul mengenai para pemilih bayaran. Dengan sekitar Rp 40.000,00, bisa dibeli 1.000 pengikut untuk twitter. Strategi ini memang tidak menjamin bahwa suara akan masuk bagi partai tertentu yang melakukan praktik tersebut.
Percakapan di media sosial seringkali diteruskan kepada mereka yang tidak memiliki akun di facebook ataupun twitter. Tetapi, sebaran pengguna facebook di Indonesia yang hampir merata di sejumlah wilayah disebutkan lebih efektif untuk menyampaikan pesan kampanye dibandingkan twitter yang hanya menjangkau kalangan perkotaan. Pengamat media sosial, Nukman Luthfie menyebutkan bahwa kampanye melalui media sosial efektif untuk mempengaruhi para pemilih.
"Tadinya golput jadi tidak golput karena mendengarkan percakapan temannya. Anak - anak muda akan mendengarkan teman, meski belum tentu dia menurut. Tapi, lama - lama akan mengambil keputusan,” jelas Nukman.
Menurut Nukman, percakapan di media sosial akan mempengaruhi orang yang belum menentukan pilihan dan preferensi pemilih pemula. Jumlah pemilih pada pilpres 2014 mencapai 190.307.134 orang, jumlah pemilih pemula mencapai lebih dari 11% dan pemilih muda dibawah usia 30 tahun mencapai 30%. Lembaga survei menyebutkan bahwa sekitar 23% pemilih belum menentukan pilihan dalam pilpres tersebut.
Selain itu, ada pengaruh positif dan negatif media sosial terhadap pemilihan presiden 2014. Pengaruh positifnya adalah masyarakat Indonesia dapat mengenal lebih dekat calon presiden, maupun visi misi yang ditawarkan. Selain itu, masyarakat dapat berkomentar tentang apa yang dipaparkan dalam media sosial tersebut. Hal tersebut merupakan kebebasan untuk mengemukakan pendapat. Kondisi ini tentu perlu kita sikapi dengan bijak, jangan sampai kemajuan teknologi menghancurkan dengan cepat nilai - nilai kesantunan dan etika serta jalinan sillaturahmi masyarakat kita yang sudah ada. Dalam komunikasi saat ini, terutama di tengah dinamika politik saat ini yang terjadi, keberadaan media sosial hendaknya menjadi jalan untuk lebih meningkatkan sillaturahmi kebangsaan kita.
Pengaruh negatifnya adalah kemampuan banyak orang mengolah dan merekayasa gambar, foto dan video serta ditambah munculnya sumber - sumber informasi yang tidak bertanggung jawab dan tidak berkompeten berpotensi mengadu domba, menghasut, mempengaruhi keyakinan dan kepercayaan masyarakat. Menghadapi hal demikian, masyarakat perlu meningkatkan kemampuan menyaring informasi dan lebih hati - hati dalam menyikapi berbagai isu dan persoalan yang dikemukakan.
Tata nilai yang terbangun berdasarkan kultur masyarakat Indonesia seperti terabaikan dalam komunikasi media sosial kini. Dapat kita lihat di halaman - halaman media sosial, tak dapat dibedakan lagi antara orang tua dan yang muda yang terlibat dalam pertengkaran. Begitu juga perdebatan yang terjadi antara orang - orang yang berbeda tingkat pengetahuan dan pendidikan serta pengalaman. Kadang kadang pernyataan dan komentar sudah menggunakan kata - kata kasar dan tidak memperhatikan azas kepatutan.
Kita dapat melihat bahwa media sosial saat ini mempunyai peran yang cukup penting. Bahkan para politisi menggunakan media sosial dalam ajang berpolitik dan kita tidak dapat memungkiri akan hal ini. Tidak salah jika melakukan kampanye di media sosial, asalkan hal tersebut dapat membawa pengaruh positif bagi bangsa kita, bukan justru sebaliknya. Alangkah lebih baik lagi jika para politisi tersebut tidak hanya berkampanye melalui media sosial, melainkan melakukan kampanye terbuka dengan masyarakat agar terjalin hubungan yang semakin dekat antara para politisi dengan rakyat Indonesia.
Copyright 2009 Juliana Sirait. All rights reserved.
Bread Machine Reviews | watch free movies online by Blogger Templates