Artikel Kelompok 2 (Bertha,Ika Putri,Juliana,dan Sonia Laura)
Posted in
Kamis, 25 September 2014
Media Sosial Ajang Berpolitik
Media sosial adalah sebuah
media online, di mana para penggunanya bisa dengan mudah
berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan ide - ide melalui blog, jejaring sosial,
forum, dan dunia virtual. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo)
mengungkapkan pengguna internet di Indonesia saat ini mencapai 63 juta orang.
Dari angka tersebut, 95 persennya menggunakan internet untuk mengakses jejaring
sosial.
Menurut data dari Webershandwick, perusahaan public relations dan pemberi layanan
jasa komunikasi, untuk wilayah Indonesia ada sekitar 65 juta pengguna facebook aktif. Sebanyak 33 juta pengguna aktif per harinya, 55 juta
pengguna aktif yang memakai perangkat mobile
dalam pengaksesannya per bulan dan sekitar 28 juta pengguna aktif yang memakai
perangkat mobile per harinya.
Pengguna twitter, berdasarkan data
PT Bakrie Telecom, memiliki 19,5 juta pengguna di Indonesia dari total 500 juta
pengguna global. Twitter menjadi
salah satu jejaring sosial paling besar di dunia sehingga mampu meraup
keuntungan mencapai USD 145 juta. Para pemilih muda
Indonesia ini sudah terbiasa dengan teknologi terutama internet, dengan lebih dari
80 persen pengguna internet di Indonesia berusia di
bawah 35 tahun. Bahkan yang
lebih penting lagi dalam pemilu kali ini, 90 persen lalu lintas internet di Indonesia akan terjadi di situs sosial media, sementara 6 persen hanya digunakan untuk mengakses berita politik dan informasi lainnya.
Bagi para politisi, sosial media menjadi alat yang semakin penting, seperti misalnya calon presiden Prabowo Subianto dari Partai Gerindra bisa berkomunikasi dengan
3 juta pendukungnya lewat sosial
media setiap hari. Kampanye di media sosial
dilakukan dengan cara yang berbeda untuk merebut suara
pemilih muda yang menjadi pengguna aktif facebook dan twitter, seperti yang disampaikan oleh
Noudhy Valdryno.
"Status soal visi misi itu sangat minim, dan akhirnya kita membuat keputusan untuk menggunakan video atau foto dan itu yang membuat booming. Akhirnya, kampanye di sosial
media itu jadi antitesis kampanye konvensional," jelas Noudhy.
Prabowo bahkan sudah memiliki akun facebook sejak 2009 lalu, dengan jumlah like mencapai lebih dari 7 juta. Sementara, like di halaman facebook Joko Widodo
mencapai lebih dari 3 juta. Di twitter, akun Jokowi
memiliki followers lebih banyak, yaitu lebih dari
1,2 juta akun, sementara Prabowo masih dikisaran 972.000 followers.
Sosial media merupakan wajah modern dalam politik Indonesia. Namun kebiasaan
lama masih bisa menyusup ke dalam pemilihan, yang bisa berpengaruh terhadap partisipasi para pemilih muda. Laporan sudah muncul mengenai para pemilih bayaran. Dengan sekitar Rp 40.000,00,
bisa dibeli 1.000 pengikut untuk twitter. Strategi ini memang tidak menjamin bahwa suara akan masuk bagi partai tertentu yang melakukan praktik tersebut.
Percakapan di media sosial seringkali diteruskan kepada
mereka yang tidak memiliki akun di facebook ataupun twitter. Tetapi, sebaran
pengguna facebook di Indonesia yang
hampir merata di sejumlah wilayah disebutkan lebih efektif untuk menyampaikan
pesan kampanye dibandingkan twitter yang hanya
menjangkau kalangan perkotaan. Pengamat media sosial, Nukman Luthfie
menyebutkan bahwa kampanye melalui media sosial
efektif untuk mempengaruhi para pemilih.
"Tadinya golput jadi tidak golput karena mendengarkan
percakapan temannya. Anak - anak muda akan
mendengarkan teman, meski belum tentu dia menurut. Tapi, lama - lama akan mengambil
keputusan,” jelas Nukman.
Menurut Nukman, percakapan di media sosial akan mempengaruhi
orang yang belum menentukan pilihan dan preferensi pemilih pemula. Jumlah pemilih pada
pilpres 2014 mencapai 190.307.134 orang, jumlah pemilih pemula mencapai lebih
dari 11% dan pemilih muda dibawah usia 30 tahun mencapai 30%. Lembaga survei
menyebutkan bahwa sekitar 23% pemilih belum
menentukan pilihan dalam pilpres tersebut.
Selain itu, ada pengaruh positif dan negatif media sosial
terhadap pemilihan presiden 2014. Pengaruh positifnya adalah masyarakat
Indonesia dapat mengenal lebih dekat calon presiden, maupun visi misi yang
ditawarkan. Selain itu, masyarakat dapat berkomentar tentang apa yang
dipaparkan dalam media sosial tersebut. Hal tersebut merupakan kebebasan untuk
mengemukakan pendapat. Kondisi ini tentu perlu kita sikapi dengan bijak, jangan
sampai kemajuan teknologi menghancurkan dengan cepat nilai - nilai kesantunan
dan etika serta jalinan sillaturahmi masyarakat
kita yang sudah ada. Dalam komunikasi saat ini, terutama di tengah dinamika
politik saat ini yang terjadi, keberadaan media sosial hendaknya menjadi jalan
untuk lebih meningkatkan sillaturahmi kebangsaan
kita.
Pengaruh negatifnya adalah kemampuan banyak orang mengolah
dan merekayasa gambar, foto dan video serta ditambah munculnya sumber - sumber informasi
yang tidak bertanggung jawab dan tidak berkompeten berpotensi mengadu domba,
menghasut, mempengaruhi keyakinan dan
kepercayaan masyarakat. Menghadapi hal demikian, masyarakat perlu meningkatkan
kemampuan menyaring informasi dan lebih hati - hati dalam
menyikapi berbagai isu dan persoalan yang dikemukakan.
Tata
nilai yang terbangun berdasarkan kultur masyarakat Indonesia seperti terabaikan dalam komunikasi media sosial kini. Dapat kita lihat di halaman - halaman media sosial, tak dapat dibedakan lagi antara orang tua dan yang muda yang terlibat dalam pertengkaran. Begitu juga perdebatan yang terjadi antara orang - orang yang berbeda tingkat pengetahuan dan pendidikan serta pengalaman. Kadang – kadang pernyataan dan komentar sudah menggunakan kata - kata
kasar dan tidak memperhatikan azas kepatutan.
Kita dapat melihat bahwa media sosial
saat ini mempunyai peran yang cukup penting. Bahkan para politisi menggunakan
media sosial dalam ajang berpolitik dan kita tidak dapat memungkiri akan hal
ini. Tidak salah jika melakukan kampanye di media sosial, asalkan hal tersebut
dapat membawa pengaruh positif bagi bangsa kita, bukan justru sebaliknya.
Alangkah lebih baik lagi jika para politisi tersebut tidak hanya berkampanye melalui
media sosial, melainkan melakukan kampanye terbuka dengan masyarakat agar
terjalin hubungan yang semakin dekat antara para politisi dengan rakyat
Indonesia.
Langganan:
Postingan (Atom)











